Kisah Trem di Batavia

trem batavia

Sisa-sisa kejayaan Batavia itu tertinggal di kawasan Kota Tua. Wujudnya seperti rel kereta api yang terputus dan berkarat. Terputus karena sebagian telah tertimpa aspal dan bangunan.

Sesuai wujudnya, besi lurus sejajar itu memang bekas jalan kereta. Bukan kereta seperti yang dewasa ini banyak menyinggahi stasiun di Jakarta, melainkan trem kota. Sebuah moda transportasi massal yang begitu lekat dengan kehidupan modern kota-kota besar di Eropa kini.

Pada masa kolonial, trem sempat menjadi angkutan primadona masyarakat Batavia. Bahkan trem baru tamat riwayatnya tahun 1960 pada masa pemerintahan Gubernur Sudiro. Atas perintah Presiden Soekarno, relnya kemudian dibongkar. Kala itu, Presiden menganggap trem sebagai biang keladi kemacetan kota.

Dimulai dengan trem kuda pada 1869. Buku ‘Kisah Betawi Tempo Doeloe: Robin Hood Betawi’ karya Alwi Shahab menyebut, trem kuda berupa kereta panjang yang memuat 40 penumpang.

Sesuai namanya, kereta tersebut ditarik tiga atau empat kuda. Sang kusir biasanya menggunakan terompet sebagai klakson. Trem kuda lewat lima menit sekali dan beroperasi setiap hari mulai pukul 05.00-20.00 dengan tarif 10 sen.

Trem menjulur di tengah kota dengan stasiun di pintu gerbang Amsterdam, sekitar 100 meter dari Pasar Ikan, dan Tanah Abang. Rutenya ke arah selatan menuju Stadhuisplein (Taman Fatahillah) – Nieuwpoort Straat (Jalan Pintu Besar Utara dan Selatan) – Molenvliet West (Jalan Gajah Mada) – Harmoni – Pasar Tanah Abang.

Dari terminal di Pasar Tanah Abang perjalanan trem berlanjut menyusuri Kampung Lima Weg (Sarinah) – Tamarin Delaan (Jalan Wahid Hasyim) – Kebon Sirih – Kampung Baru (Jalan Cut Mutia) – Kali Pasir – Kramat – Pasar Baru – Wilhelmina Park (Istiqlal) – Rijswijk (Jalan Veteran) – Harmoni dan kembali ke Pasar Ikan.

Pada 1881, keberadaan trem kuda digantikan trem bermesin uap. Kereta tak lagi ditarik kuda melainkan lokomotif yang dijalankan dengan ketel uap. Rutenya pun lebih panjang yaitu dari Pasar Ikan sampai Jatinegara. Jalur trem bercabang di kawasan Harmoni. Selain ke arah Tanah Abang, jalur trem juga menjalar ke Jatinegara melintasi Pasar Baru – Gunung Sahari – Kramat – Salemba – Matraman.

Sekitar 20 tahun kemudian, seiring perkembangan teknologi, trem uap pun tergeser oleh trem listrik. Namun, trem uap masih mengiringi kemunculan trem listrik hingga akhirnya dihapus pada 1933. Selama 27 tahun, trem listrik pun merajai jalanan Jakarta hingga akhirnya tergusur oleh bus-bus PPD.

[via] vivanews.com

Iklan

4 responses to “Kisah Trem di Batavia

  1. lagi ngbahas sejarah nihhh …

    tar saya baca dolo yaaa …….. !!!

  2. batavia…jadi pengen liat yang jaman dulu kayak apa…nggak kayak sekarng…macet teruss

  3. wah harusnya trem harus tetep ada y.. biar keliatan kota nya…. hiks cuman kenangan trem.. akankah hadir kembali trem.. smoga ada lgi.. smoga pemda DKI melestarikan kembali trem2..

  4. trem di kota tua jakarta, masih ada :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s