Halal di kemasan, belum tentu halal dimakan

logo halal mui

Halal di kemasan, belum tentu halal dimakan. Kalimat ini, boleh jadi terdengar aneh dan tak masuk akal. Bagaimana mungkin sebuah produk kemasan mendapat label halal tanpa ada rekomendasi alias sertifikat yang menyatakan bahwa produk tersebut benar-benar halal. Sekali lagi ini memang ‘keanehan’ yang masih terjadi di Indonesia. Setidaknya begitulah temuan yang didapatkan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LP-POM) MUI.

Berdasarkan survei yang dilakukan LP-POM MUI tersebut, sedikitnya ada 69 jenis produk pangan olahan yang telah menggunakan label halal, tapi sesungguhnya belum mendapatkan sertifikat halal. Dalam bahasa yang paling praktis, label halal pada produk makanan olahan ini adalah aspal. Repotnya, dari 69 produk berlabel halal namun belum mendapatkan sertifikasi halal dari MUI itu, sebagian besar di antaranya adalah produk yang sudah punya nama.

Kebanyakan produk yang ditemui dari hasil survei LP-POM MUI tersebut umumnya adalah produk permen yang menggunakan gelatin, yaitu gummy candies dan chewy candies. Kesemua produk yang disurvei itu, memiliki izin produksi dari Depkes RI berupa nomor MD (untuk industri menengah ke atas) dan nomor SP (untuk industri rumah tangga).

Dari survei tersebut, LP-POM juga menemukan bahwa ada beberapa produk yang sebenarnya sudah mendapatkan sertifikat hal dari MUI, tapi celakanya, mereka menggunakan sertifikat yang sesungguhnya hanya diberikan untuk satu jenis produk itu untuk semua produk yang mereka hasilkan. Ini tentu saja, menyesatkan.

Survei itu juag menyebutkan bahwa dari beberapa produk tersebut, memang beberapa di antaranya juga sudah pernah mendapatkan sertifikat halal dari MUI. Hanya saja, mereka menggunakan itu sebagai dasar pembuatan label halal pada kemasan mereka selama lebih dari dua tahun. Padahal, usia sertifikat halal itu, sesungguhnya dibatasi hanya dua tahun. Jika habis masa berlakukan, maka produsen wajib memeriksakan kembali produknya untuk mendapatkan sertifikat halal terbaru.

Mestinya, label halal yang ditempelkan pada kemasan produk olahan itu hanya bisa dilakukan setelah lembaga yang berwenang memberikan label itu, yakni Ditjen Pengawasan Obat dan Makanan (POM), mempertimbangkan bahwa produk tersebut telah mendapat setifikasi halal dari MUI (Komisi Fatwa MUI). Bahkan saat melangsungkan dengar pendapat antara Ditjen POM dengan DPR awal Februari lalu, Dirjen –kini Kepala) POM menyebutkan pihaknya sebenarnya hanya melegalisasikan keputusan yakni sertifikasi halal yang diterbitkan oleh MUI.

Jadi izin pemberian label halal pada produk olahan dalam kemasan itu, hanya bisa diterbitkan setelah Ditjen POM memperhatikan bahwa produk tersebut sudah mendapatkan sertifikat halal dari MUI. Prinsip itu sebenarnya sudah disepakati oleh beberapa institusi terkait dalam soal pemberian sertifikat dan label halal pada produk olahan dalam kemasan. Pada tahun 1997 silam, MUI, Departemen Kesehatan dan Departemen Agama sudah memastikan pula prosedurnya, yakni pencatuman label halal pada produk haruslah melalui pemeriksaan tim halal gabungan (yang terdiri atas tiga lembaga terkait tadi). Pascapemeriksaan, masalah kehalalannya adalah merupakan wilayah kewenangan MUI.

Masalahnya kini, mengapa masih banyak produk yang mencatumkan label halal meski sesungguhnya mereka belum pernah mendapatkan sertifikasi halal dari MUI?
Memang tak semua produk yang tak mencantumkan label halal, lantas menjadi diragukan kehalalannya. Namun kenyataan bahwa banyak produk mencatumkan label halal pada kemasannya tanpa pernah melewati prosedur yang seharusnya, tentu bisa membingungkan umat.

Lebih dari itu, kenyataan tersebut menunjukkan bahwa pengawasan terhadap pemberian label halal pada kemasan produk makanan olahnya, sangat lemah. Dan karenanya, kondisi ini perlu dibenahi, sehingga tidak setiap produsen bisa dengan mudah membubuhkan label halal pada produk mereka berdasarkan persepsi halal versi mereka sendiri. Dan jelas, itu belum tentu sesuai dengan syariah agama dan merugikan konsumen Muslim. n disarikan dari sajian utama jurnal LP-POM MUI.

[via] republika.co.id

Iklan

6 responses to “Halal di kemasan, belum tentu halal dimakan

  1. waduh parah nih…kalo mo makan mesti hati2 dunks

  2. yap benar…kudu waspada

  3. Salam Sukses….

    Rio de Jenero ALA Indonesia “Jember Fashion Carnaval” (Rekor Dunia Catwalk Terpanjang)
    kunjungi http://sudutp4nd4ng.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s