Mass Rapid Transit (MRT) dinilai rentan terhadap bencana alam

bangkok train mrtfoto : kereta MRT di Bangkok

Jalur kereta bawah tanah yang rencananya akan dilalui sarana angkutan Mass Rapid Transit (MRT) dinilai rentan terhadap bencana alam. Tanpa perhitungan yang matang, menurut ahli, Pembangunan jalur tersebut juga berpotensi menyebabkan bencana alam.

Menurut Claude Berenguier, Sekretaris jenderal International Tunneling Association (ITA), lembaga konsultan teknik internasional, bencana yang paling rawan untuk proyek seperti terowongan bawah tanah MRT ini adalah gempa dan banjir.

Efek gempa akan terasa lebih besar di bawah tanah dari pada diatasnya. Selain itu, banjir juga memiliki dampak yang lebih sukar ditanggulangi jika menimpa jalur bawah tanah. “Faktor-faktor tersebut harus benar-benar diperhatikan dalam pembangunan terowongan,” ujar Berenguier dalam diskusi mengenai terowongan dan konstruksi bawah tanah (Tunnel & Underground Construction) di Hotel Niko, Jakarta Pusat, Rabu (30/09).

Namun, di sisi lainnya, pembuatan terowongan bawah tanah ini juga berpotensi menimbulkan bencana bagi lingkungan sekitarnya. Olivier Vion, Direktur Eksekutif ITA mengungkapkan, pembangunan terowongan bawah tanah bisa berpengaruh buruk pada sumber air tanah serta mengubah struktur geologis. Perubahan struktur geologis ini jika dilakukan serampangan bisa memperparah efek dari gempa yang mungkin melanda Jakarta. “Selain bencana alam, ada kemungkinan pembangunan terowongan menimbulkan kerusakan arkeologi atau cagar budaya yang mungkin tersimpan di kedalaman tanah,” kata dia.

Terkait peringatan ini, kedua ahli tersebut menekankan pentingnya faktor pengamanan dalam pembangunan jalur MRT. Selain penggunaan teknik konstruksi yang bersesuaian dengan alam dan tahan bencana, keberadaan fasilitas pengamanan dianggap penting dalam proyek pembangunan MRT.

Rentannya jalur terowongan MRT akan bencana diakui oleh Tribudi Rahardjo, Direktur Utama PT MRT Jakarta. “Kondisi alam di Jakarta memang berpotensi menimbulkan sejumlah bencana seperti gempa dan banjir,” ujarnya.

Namun, ia juga mengaku bahwa PT. MRT Jakarta telah menyiapkan sederet antisipasi. Tribudi menuturkan bahwa pihak perusahaannya telah melibatkan ahli bencana dalam pembuatan desain dasar proyek. yang dilakukan hingga pertengahan tahun 2010.

Ahli bencana tersebut menurutnya bertugas memberi opini tandingan atas desain yang dibuat kontraktor. Sejauh ini, sejumlah ahli tersebut sudah berperan ikut merancang struktur terowongan tahan gempa.

Tribudi melanjutkan bahwa tahun depan, tahap pembuatan desain dasar MRT akan selesai. Selepas penyelesaian desain, pemerintah akan menggelar lelang konstruksi, dan melakukan pembangunannya pada tahun 2011.

Proyek MRT ini direncanakan selesai seluruhnya pada 2016 nanti. Meliputi pembangunan jalur sepanjang 14,5 kilometer yang merentang dari Lebak Bulus sampai ke Dukuh Atas, Jakarta Selatan.

Dari jalur sepanjang itu, sepanjang 4,5 kilometernya akan melintas di bawah tanah. Jalur yang rencananya dibuat bertingkat itu akan dilewati kereta listrik yang singgah di tiap-tiap stasiun dengan rentang waktu 3 sampai 5 menit sekali.

[via] republika.co.id

Iklan

13 responses to “Mass Rapid Transit (MRT) dinilai rentan terhadap bencana alam

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Kayaknya kita kurang bijak dalam perencanaan jangka panjang, ya?

  2. Semoga menjadi realita ya… bagus sekali tuh sepertinya dengan teknologi yang semakin berkembang saya yakin indonesia semakin berkembang dan maju

  3. Ironis memang, Jakarta memang terus membutuhkan terobosan baru untuk meminimalkan kemacetan, tetapi dgn efek bahaya yg bisa ditimbulkan… rasannya kok ngeri juga ya…

  4. lapor…!!!

    link dah ku pasang…
    maaf agak telat….
    aku jarang buka blog di pc…

    laporan selesai….

    *gak dihukum kan pak..*

  5. MRT…. jalur kereta api bawah tanah….???

    waah kapan mo dibangun yang ke arah bogor…???

  6. wuih .. jadi ngeri2 nih ..
    saat pameran MRT di PRJ yang lalu , rasanya sangat antusias, ingin mencoba..
    tapi kok setelah baca ini , jadi takut ya ..

    Iklan Gratis

  7. Teknologi yang digunakan untuk pembuatan terowongan bawah tanah, telah teruji di beberapa negara, termasuk negara2 yang mempunyai resiko gempa tinggi. Yang terpenting bagaimana suatu teknologi yang diterapkan atau diaplikasikan perlu pengawasan konstruksi dan perawatan yang maksimal. Seperti halnya terowongan dibawah laut, sesuatu yang dimata orang awam akan menimbulkan rasa khawatir, tetapi pada akhirnya masyarakat akan mengetahui bahwa itu aman. Kekurangan sosialisasi tentang teknologi perlu dimasyarakatkan. http://signal-railways.blogspot.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s