Ketan Uli Di Hari Raya

Dalam kehidupan masyarakat Betawi dikenal berbagai macam makanan dan minuman khas. Salah satunya ketan uli. Namun, makanan yang tersaji saat perayaan keagamaan seperti Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha ini, ternyata memiliki makna tersendiri.

Ya, ketan uli memang merupakan satu dari sekian banyak panganan khas Betawi yang masih terlestari. Pembuatan ketan uli memiliki makna mendalam dalam kebudayaan masyarakat Betawi, yaitu sebagai simbol kekeluargaan atau silaturahmi yang terjalin antar keluarga.

Hal ini ditunjukan dengan pembagian tugas antara wanita dan pria dalam proses pembuatannya. Biasanya ketan uli dibuat mengiringi pemotongan kerbau andilan yang kerap dilakukan masyarakat Betawi tempo dulu, sebagai tradisi menjelang Lebaran. Selain ketan uli, masih ada beberapa makanan pengiring lainnya seperti kue geplak, wajik, kue lapis pepe dan dodol yang keberadaannya mulai hilang.

Mungkin tak banyak yang tahu, ternyata pembuatan ketan uli mengandung sebuah arti. “Biasanya kaum pria yang menumbuk ketan, sedangkan para wanita kebagian tugas memasak atau membuat ketan ulinya. Pembagian tugas itu ada maknanya, termasuk sebagai simbol kebersamaan bagi masyarakat Betawi,” kata Alim Molana, salah seorang tokoh masyarakat Warungbuncit, Jakarta Selatan, kepada beritajakarta.com, Jumat (27/11).

Proses pembuatan ketan uli, menurut Alim, gampang-gampang susah. Yang terpenting adalah menjaga kebersihan bahan, dan tempat penyimpanannya. “Tapi banyak yang mempercayai kalau pembuatan ketan uli ini mengandung mistis. Sebab, jika melanggar pantangan, hasilnya pasti gagal total,” jelas Alim.

Bahan pembuatan ketan Uli adalah tape ketan, ragi tape, beras ketan putih, kelapa parut segar dan garam. Proses pembuatannya pun sedikit ribet. Awalnya, beras ketan dicuci hingga bersih, kemudian direndam dalam air bersih selama 2 sampai 6 jam, dan dimasak hingga matang. Setelah itu, pindahkan ketan selagi panas dalam wadah dan taburi kelapa, garam, aduk hingga rata.

Proses lain yang harus dilakukan yaitu, menumbuk beras ketan selagi panas hingga ketan terlihat agak halus. Jika menginginkan ketan uli yang lembut, lanjutkan penumbukannya hingga sangat halus. Sementara itu, siapkan bungkus berupa daun pisang, kemudian dibungkus dan dipotong beberapa bagian. Biarkan ketan uli itu hingga dingin dan siap disantap. Diakui Alim, ketan uli disajikan sebagai simbol kesederhanaan. “Tak hanya kesederhanaan, makna religi pun begitu kental dalam setiap hidangan atau sajian ketan uli,” ungkap Alim.

Selain di Jakarta, ketan Uli juga banyak digunakan sebagai pelengkap prosesi sakral pada tradisi Jawa di Yogjakarta dan Surakarta. Bahkan, setiap perayaan Maulid Nabi atau tradisi 1 Muharam yang menampilkan gerebek gulungan, ketan uli selalu dihadirkan bersama tapai ketan, madu mongso, jajanan pasar lainnya, serta hasil bumi yang mengibaratkan kekayaan alam sebagai anugerah yang maha kuasa.
[via] beritajakarta.com

Postingan Terkait :

Iklan

31 responses to “Ketan Uli Di Hari Raya

  1. PETROOOMAAAXXXXXXXXXXXXX

  2. keknya mantan tukang uli ne xixixixii

  3. Hem lezatnya..salam kenal bang haris..

  4. oh ya Mas Haris, kemarin bunda juga dikirimin ketan uli ini oleh tetangga yg orang betawi,
    begitu tahu cara pengerjaan utk membuatnya, MasyaAllah ternyata berat juga ya.
    Selamat Hari Raya Idhul Adha 1430 H.
    Semoga kita termasuk diantara orang2 yg bertakwa, amin.
    salam.

  5. Ulen ya Bang Haris kalo di sunda

  6. Kalo di medan ketan uli dimakanya sama tape pulut beras…

  7. enaknya, bagi dunk mas kalo masih ada 😀

  8. Maaf Mas telat respon, linknya sudah saya pasang ya.
    Trims. Salam 🙂

  9. weh..weh.. sampai begitu menguasai proses pembuatannya.. berarti ikut numbukin juga ya?! Harusnya ada fotonya juga biar kita bisa tau hasil akhirnya seperti apa.. skalian aja dikirimin dikit buat bahan nyicip hehehe.. 🙂

  10. KetanUli??? kayak apa ya…perasaan gak pernah tahu.

  11. numpang lewat bang
    keselek torpedo ya, kok lom posting lagi

  12. Wah, jadi curiga…hafal banget ama cara pembuatannya, jangan2 mantan tukang ketan uli ya bang haris? Hehehehehe….

  13. Semoga saja saya ada rezeki ke Jkt,trus ketemu Bang haris dan ditawari ketan ULI 😀

  14. Ping-balik: Alhamdulillah makan enak « harisAhmad

  15. wah…aq suka banget makanan yang berasal dari ketan…guuut kangen nie makan ketaaannn gmana yaaa..??

  16. Ketan Uli pasti bawa temennye itu tape Ketan itu kalo ulinya baru istilahnya masih anget enak tuh dicocol. makanye saya kalo tidur bila engga ada temennya rasanya engga enak soalnye engga ada yang dicocol. Engga apa-apa sih kalo ulinya sudah lama, ngga apa-apa kalo engga ada temnnya digoreng aja baru deh kalo sudah mateng, anget-anget baru kita kita ambil temennya gula kita cocol aduh! enaknya engga nahan renyah-renyah gurih lupa deh ame tetangge soalnye ade temennya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s